Seperti halilintar di siang bolong, saya terkejut mendengar perkataan kawan yang sudah lama tidak berjumpa itu. Menurutnya Tuhan itu tidak ada, kawanku yang ber KTP Islam itu juga mengatakan bahwa Nabi Muhammad hanyalah seorang manusia biasa, seorang pemimpin yang kharismatik dan berhasil membawa pengikutnya kepada kejayaannya pada saat itu. Sehingga kualitas kepemimpinannya diakui secara mendunia sampai saat ini.
Al-Quran adalah saripati pemikiran dan pengalaman seorang Muhammad dilengkapi dengan kebudayaan dan pengaruh orang-orang disekitarnya yang ada pada zamannya. Bukan merupakan wahyu dari Allah SWT, melainkan hanya sebatas ilham yang didapat oleh Beliau. Fenomena masyarakat Islam yang ada saat ini adalah sekedar kelatahan akibat mengadopsi kebudayaan dari Arab, seperti Jilbab, haji, termasuk ritual khusus dan umum. Pendapatnya tidak hanya sekedar kepada Nabi Muhammad saja, tapi juga nabi-nabi agama yang lain seperti Isa, Daud, Musa dlsb. Dahsyat sekali…!
Saya mengenalnya sudah cukup lama karena satu kuliah dengannya disebuah kota pelajar dekat Jateng. Pemahaman agama kitapun juga standar-standar saja dan tidak neko-neko waktu itu. Dia orang yang cukup enak untuk diajak berteman dan berdiskusi. Wawasannya cukup luas dan termasuk mempunyai otak yang cemerlang di kampus. Dengan kemampuannya itu dia mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan ambisinya, yaitu menjadi eksekutif diperusahaan asing.
Sempat berpindah-pindah perusahaan, namun tetap pada perusahaan asing yang bonafide. Dia sempat pula berkeluarga sebentar namun bercerai tanpa anak. Setelah mengumpulkan cukup uang ia mengundurkan diri dari pekerjaan dan melanjutkan sekolah hukum bisnis ke Australia dan berlanjut ke sebuah negara di Eropa. Saya sempat meledeknya sebagai pelarian akibat gagal berumah tangga, namun dia hanya ketawa dan bilang bahwa masih ingin memperluas wawasan dan pengalaman. Terus terang saya juga kagum dengan ambisi kawan yang satu ini.
Selama berada diluar negeri kami tidak pernah berhubungan lagi, tenggelam dengan kesibukan masing-masing. Baru setelah sebulan kembali ke tanah air, dia menghubungi saya dan kita kembali sesekali bertemu di mall atau cafe sekedar ngobrol-ngobrol. Saat ini ia sudah mendapatkan posisi yang lumayan tinggi di sebuah konsultan asing yang berkantor di sekitar jalan Sudirman Jakarta.
Untuk diskusi tentang pemahaman dia yang baru ini, saya coba beradu argumentasi dengannya, namun dengan keyakinan yang mantap dia mampu menjawab semua itu berdasarkan logikanya. Walaupun saya tanyakan kepadanya tentang peran Tuhan dalam mengatur jagat raya ini seperti terjadinya siang dan malam dlsb, dia bilang bahwa itu sudah terjadi dengan sendirinya. Akhirnya ujung-ujungnya kita selalu sepakat untuk tidak sepakat tentang soal yang satu ini.
Perubahan dia yang lain adalah pada gaya hidup yang sangat ’western’. Dia penganut free sex sejati, ketika saya tanya bagaimana jika pasangannya hamil, dia mengatakan akan bertanggung jawab selayaknya seorang bapak ke anak namun tanpa hubungan nikah. Sepertinya dia sudah mantap dan mapan untuk hidup sendirian.
Kadangkala saya berpikir dan merenung dengan pemahaman baru kawanku yang menjadi ateis ini. Apakah karena perbedaan wawasan dan pengalaman membuat saya tetap menjadi penganut agama yang puritan sedangkan dia sudah sangat modern dan berpikiran yang ’out of the box’ ? Atau…. dia mencoba menghilangkan eksistensi Tuhan dalam dirinya, sehingga dia tidak lagi terbebani dengan perasaan berdosa ? Wallahu Alam…
Peace…