Posted by: goofy | 15 August 2008

Seleb jadi Caleg

Ged DPR

Mengamati tulisan Bung Veven Sp. Wardhana di koran Tempo 14/Ags/08, ” Desakralisasi Dunia Selebritas dan Politik”, cukup menarik bagi saya. Fenomena para seleb yang terjun kedunia politik saat ini semakin banyak. Walaupun bukan yang pertama, namun makin marak saja  Apakah fenomena ini salah ? Atau adakah yang salah dengan masyarakat kita ?

Saat ini para pengurus partai telah menyesuaikan strateginya untuk menghadapi Pemilu 2009. Kata kuncinya adalah “Popularitas”. Perlu figur yang populer untuk mengangkat popularitas partai itu sendiri. Dan figur yang dianggap mudah mendapat simpati pemilih umumnya adalah para artis kondang yang kerap muncul di media massa.

Bung Veven menulis ;

“Jika politikus ‘asli’ saja sudah minim kualifikasi, apa salahnya jika para selebritas itu ’sama rata’ belaka kualifikasinya dengan politikus  ‘asli’ .  Jika masyarakat tak menemukan kualitas dalam dunia politik dari para selebritas,  setidaknya masyarakat
masih mendapatkan identifikasi popularitas selebritas.

Masyarakat sudah muak dengan ulah oknum wakil rakyat saat ini yang terlibat dengan korupsi dan prilaku amoral. Masyarakat merasa sakit hati karena mereka yang dipilih dan diberikan amanat telah berkhianat. Ibarat tidak mau lagi memilih kucing dalam karung, mereka mencoba mengenal lebih awal para calon legislatifnya. Lalu siapakah yang mudah dikenal ? Disinilah fungsi selebritas memainkan perannya.

Gemerlap industri media cetak dan elektronik di negeri ini, melahirkan bintang-bintang baru yang selalu disorot kehidupannya dari yang umum bahkan sampai ruang private. Setiap hari media meliput, memberitakan dan harus selalu ‘up to date’. Akhirnya masyarakat bisa melihat, menilai dan mengidentifikasi para selebritas tersebut.

Lalu kualifikasi artis seperti apa yang umumnya dipilih ? Umumnya adalah artis yang tidak neko-neko dan terkesan lurus serta ‘look smart’. Untuk artis yang sering berperan sebagai tokoh antagonis, kemungkinan tipis untuk dipilih, yang tersangkut narkoba ‘forget it !’, apalagi yang menjual goyang birahi ‘no way !’

Selebritas tidak selalu harus artis, bisa jadi ia seorang profesional yang sering muncul dimedia massa. Seperti pengamat politik, bankir, dokter, pengusaha sampai mantan Jenderal. Namun dengan struktur masyarakat “grass root” yang dominan, mereka lebih memilih nonton sinetron ketimbang acara serius atau baca berita politik. Tidak percaya ? lihat saja rating acara TV, sinetron masih menjadi primadona.

Akhirnya untuk mensiasati hal tsb, para ‘Candidate’ diluar jalur artis harus ekstra kerja dengan membuat iklan, promosi, dlsb, untuk lebih populer. Asal jangan kebablasan ikut-ikutan main sinetron atau jadi bintang tamu diacara sitkom di TV.

Kesimpulannya adalah tidak ada yang salah dengan fenomena seleb jadi caleg, karena masyarakat hanya mencoba mencari wakil rakyat yang lebih baik dengan caranya sendiri.

Peace

Tags: , , ,

Posted by: goofy | 12 August 2008

The have and the have not

The Fever

Sebuah film produksi HBO berjudul “FEVER” sedikit menggelitik perasaan saya. Saya coba mengekspresikan sebagian kecil dari adegan film itu yang menurut saya sangat mengesankan (mudah-mudahan tidak melenceng dari alur cerita..).

Film yang dibintangi pemenang Oscar Vanessa Redgrave, menceritakan perang batin seorang anak manusia mengenai semakin melebarnya jarak antara orang kaya dan orang miskin serta negara kaya dan negara miskin. Pertanyaan demi pertanyaan, pengalaman masa kecil serta pengamatan sekitar kehidupannya memberikan kegelisahan  dan konflik batin yang sangat mendalam.

Suatu pengalaman masa kecil dimana ia sering mempertanyakan kenapa di daerah Bronx sangat miskin dan selalu banyak tindakan kriminal. Banyak orang-orang yang sangat berangasan serta genk-genk anak muda yang sering terlibat perkelahian. Dampak psikologis apa yang menyebabkan masyarakat menjadi sangat gelisah dan tempramental?

Fenomena tersebut sangat kontradiktif dengan kehidupannya yang nyaman dan selalu penuh dengan kehangatan.  Lingkungan yang aman dan disiplin, dikelilingi oleh masyarakat yang mempunyai tingkat intelektualitas yang tinggi dan seragam. Kebutuhan hidup semuanya terpenuhi bahkan terkesan mewah.

Ia menjawab sendiri pertanyaan tersebut, bahwasanya terpenuhinya semua kebutuhan baik lahir dan batin disuatu komunitas akan menghasilkan tatanan kehidupan disiplin dan nyaman.  Namun jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi dan sering terjadi, membuat sikap seseorang akan menjadi labil, tempramental, curiga dlsb. Ia coba berandai dengan melakukan eksperimen psikologis sederhana pada dirinya sendiri untuk merasakan  menjadi gelisah dan  tempramental.

Setiap hari ia selalu melakukan kegiatan yang rutin yang sudah lama dijalankannya dan sudah menjadi ritual bagi dirinya yaitu “minum kopi hangat di pagi hari”. Setiap kali menjalani momen ritual tsb, selalu dinikmatinya secara mendalam. Namun pada suatu pagi yang dingin dimana yang lain masih terlelap, ketika ia akan memulai menjalankan ritualnya, ternyata persediaan kopi sudah habis. Semua laci dan tempat penyimpanan diperiksa, namun  tidak ditemukan persediaan kopi sedikitpun. Tidak mungkin ia minta kopi ke tetangga atau beli ditoko, karena masih terlalu pagi.

Kesabarannya mulai hilang, tekanan darah mulai naik, momen terbaiknya yag selalu dinikmati mulai terlewati dengan sia-sia. Disinilah ia merasakan perasaan yang kecewa, marah,  putus asa yang dilampiaskannya dengan mengacak-acak dapurnya secara kasar, ia telah menjadi sangat tempramental.

Masalahnya itu hanya kopi baginya. Hal yang masih dianggap sederhana dan besoknya mungkin akan terobati.  Realitanya adalah, bagaimana jika suatu keluarga tidak ada makanan untuk hari ini ? untuk besok ? besoknya ? Tidak ada uang untuk  belanja, untuk sekolah anak, untuk sewa tempat tinggal, apalagi untuk sekedar hiburan bagi anak-anak yang di sayanginya.

Wajah-wajah yang ramah dan gembira akan sirna, berubah menjadi kusam, cemberut, pemarah, dan berprilaku kasar. Tidak ada momen terbaik sepanjang hidupnya. Selalu bertubi-tubi ditimpa kekurangan dan kekecewaan. Kebutuhan yang paling mendasarpun sudah sulit untuk terpenuhi.

Yang paling menyakitkan hatinya adalah ketika memandangi suatu komunitas di dekat wilayahnya yang berprilaku sangat glamour, berlomba-lomba dengan kemewahan. Sengaja menjadi lupa jika masih ada orang yang kelaparan dan kekurangan.

Peace…


Selamat berpuasa di bulan Ramadhan, mohon maaf lahir & bathin…

Tags: , , , , ,

Posted by: goofy | 9 August 2008

Agama bukan penyebab perang

Child & Soldier

Perang bukan karena alasan agama, tetapi karena adanya distorsi pemahaman agama masing-masing ditambah dengan hawa nafsu manusia terhadap kekuasaan. Sehingga sejak zaman Nabi Adam sampai sekarang tetap terjadi perang.

Kenapa agama tidak dapat diadikan alasan ? Dalam Islam diakui beberapa nama kitab suci seperti Zabur, Taurat, Injil dan Al-Qur’an, atau pengikutnya selalu disebut sebagai Yahudi, Nasrani dan Islam. Dimana secara teoritis seharusnya pengikut kitab-kitab tersebut tidak akan saling bertentangan, disebabkan kitab-kitab tersebut turun dari Tuhan yang satu.

Kenapa terjadi distorsi pemahaman agama ?  Karena ada intervensi hawa nafsu manusia diluar tujuan mulia agama itu sendiri. Menurut sejarah, agama Yahudi justru di intervensi oleh pengikutnya sendiri dengan berpaling dari ajakan Musa. Nasrani di intervensi oleh Romawi sebagai negara yang kuat pada saat itu. Islam diintervensi oleh barat dengan perang dan orientalismenya.

Dalam kondisi bingung, chaos dan berpecah belah, sulit bagi suatu masyarakat menyimpulkan pesan-pesan Tuhan secara benar untuk menuju perdamaian. Akibatnya timbul fundamentalisme masing-masing agama yang tidak ada kompromi lagi. Selain perang fisik, semua media komunikasi dipakai juga  untuk propaganda dan menyudutkan lawan masing-masing untuk meraih opini sebagai alasan pembenaran.

Toleransi hanya sebatas pada meja perundingan dengan alasan win-win solution untuk kekuasaan dan sumberdaya alam. Sungguh sangat materialistis.

Akibat yang lain adalah timbul masyarakat yang apatis terhadap agama, seperti komunis yang tidak percaya terhadap agama, karena dianggap sebagai candu dan penghalang kepada kemajuan. Atau seperti artis mendiang John Lennon sebagai ikon ‘Flower Generation’ dengan lagunya ‘Imagine’ ;

Imagine there’s no heaven
It’s easy if you try
No hell below us
Above us only sky

Imagine all the people
Living for today…

Imagine there’s no countries
It isn’t hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too

Imagine all the people
Living life in peace…

Imagine no possessions
I wonder if you can
No need for greed or hunger
A brotherhood of man

Imagine all the people
Sharing all the world…

You may say I’m a dreamer
But I’m not the only one
I hope someday you’ll join us
And the world will live as one 

Lalu apakah ada perdamaian didunia ini ? Hal tersebut kita serahkan kepada individu masing-masing. Sekedar mencari ‘suasana’yang damai, bisa saja dengan hidup menyepi digunung atau daerah yang sepi dan tidak berhubungan dengan orang lain. Yang lebih ekstrem cukup memakai narkoba untuk mencapai kedamaian sesaat.

Tidak perlu kita menunggu kedamaian setelah kita mati, karena dari pesan-pesan Tuhan baik yang tersirat maupun yang tersurat,  sudah ada petunjuk tersebut, tinggal kita mau berpikir atau tidak.

Sekali lagi agama adalah tetap jalan keluar bukan penyebab perang, manusia sebagai makhluk yang multidimensional hanya Sang Penciptanya yang tahu DOS (Disk Operating System) seperti apa yang cocok bagi umat manusia.

Peace.

Tags: , , , ,

« Newer Posts - Older Posts »

Categories