Mengamati tulisan Bung Veven Sp. Wardhana di koran Tempo 14/Ags/08, ” Desakralisasi Dunia Selebritas dan Politik”, cukup menarik bagi saya. Fenomena para seleb yang terjun kedunia politik saat ini semakin banyak. Walaupun bukan yang pertama, namun makin marak saja Apakah fenomena ini salah ? Atau adakah yang salah dengan masyarakat kita ?
Saat ini para pengurus partai telah menyesuaikan strateginya untuk menghadapi Pemilu 2009. Kata kuncinya adalah “Popularitas”. Perlu figur yang populer untuk mengangkat popularitas partai itu sendiri. Dan figur yang dianggap mudah mendapat simpati pemilih umumnya adalah para artis kondang yang kerap muncul di media massa.
Bung Veven menulis ;
“Jika politikus ‘asli’ saja sudah minim kualifikasi, apa salahnya jika para selebritas itu ’sama rata’ belaka kualifikasinya dengan politikus ‘asli’ . Jika masyarakat tak menemukan kualitas dalam dunia politik dari para selebritas, setidaknya masyarakat
masih mendapatkan identifikasi popularitas selebritas.
Masyarakat sudah muak dengan ulah oknum wakil rakyat saat ini yang terlibat dengan korupsi dan prilaku amoral. Masyarakat merasa sakit hati karena mereka yang dipilih dan diberikan amanat telah berkhianat. Ibarat tidak mau lagi memilih kucing dalam karung, mereka mencoba mengenal lebih awal para calon legislatifnya. Lalu siapakah yang mudah dikenal ? Disinilah fungsi selebritas memainkan perannya.
Gemerlap industri media cetak dan elektronik di negeri ini, melahirkan bintang-bintang baru yang selalu disorot kehidupannya dari yang umum bahkan sampai ruang private. Setiap hari media meliput, memberitakan dan harus selalu ‘up to date’. Akhirnya masyarakat bisa melihat, menilai dan mengidentifikasi para selebritas tersebut.
Lalu kualifikasi artis seperti apa yang umumnya dipilih ? Umumnya adalah artis yang tidak neko-neko dan terkesan lurus serta ‘look smart’. Untuk artis yang sering berperan sebagai tokoh antagonis, kemungkinan tipis untuk dipilih, yang tersangkut narkoba ‘forget it !’, apalagi yang menjual goyang birahi ‘no way !’
Selebritas tidak selalu harus artis, bisa jadi ia seorang profesional yang sering muncul dimedia massa. Seperti pengamat politik, bankir, dokter, pengusaha sampai mantan Jenderal. Namun dengan struktur masyarakat “grass root” yang dominan, mereka lebih memilih nonton sinetron ketimbang acara serius atau baca berita politik. Tidak percaya ? lihat saja rating acara TV, sinetron masih menjadi primadona.
Akhirnya untuk mensiasati hal tsb, para ‘Candidate’ diluar jalur artis harus ekstra kerja dengan membuat iklan, promosi, dlsb, untuk lebih populer. Asal jangan kebablasan ikut-ikutan main sinetron atau jadi bintang tamu diacara sitkom di TV.
Kesimpulannya adalah tidak ada yang salah dengan fenomena seleb jadi caleg, karena masyarakat hanya mencoba mencari wakil rakyat yang lebih baik dengan caranya sendiri.
Peace
Tags: artis, legislatif, politik, selebritas